Minggu, 11 November 2012

TANPA KONSEP

Seorang ilmuwan memprotes Sang Guru yang dinilainya telah bersikap tidak adil terhadap ilmu pengetahuan. Menurutnya Sang Guru melecehkan "konsep" dan mempertanyakannya dengan "pengetahuan-tanpa-konsep".

Sang Guru dengan susah paya menjelaskan ia tidak bermaksud memusuhi ilmu. "Tetapi," katanya, "pengetahuanmu mengenai istrimu sebaiknya melampaui pengetahuan-konsep-ilmiah."

Ketika berbicara kepada muridnya, ia bahkan lebih tajam lagi. "Konsep-konsep membatasi," katanya. "Membatasi berarti merusak. Konsep-konsep itu membeda kenyataan. Dan apa yang kamu bedah itu kamu bunuh."

"Apakah kalau konsep-konsep menjadi tak berarti?"

"Tidak. Bedahlah bunga mawar dan kamu akan mempunyai informasi yang berharga - meski bukan pengetahuan - tentang bunga itu. Jadilah seorang ahli dan kamu aka memiliki banyak informasi - tetapi bukan pengetahuan - tentang kenyataan."

( Berbasa-basi sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997 )

EMOSI NEGATIF

"Orang tidak ingin membuang rasa iri hati, rasa cemas, sara marah, dan rasa salah kerena emosi-emosi negatif itu memberikan kepada mereka sensasi, perasaan sungguh-sungguh hidup," kata Sang Guru.

Dan beginilah ia memberikan ilustrasi.

Seorang tukang pos mengambil jalan pintas melalui rerumputan dengan naik sepedanya. Sampai di tengah, seekor sapi jantan melihatnya dan mengejarnya. Orang yang malang itu hampir saja kena tanduk.

"Nyaris kena, ya?" kata sang guru yang menyaksikan peristiwa itu.

"Ya," kata orang tua itu terengah-engah. ""Selalu begitulah selama ini."

( Berbasa-basi sejenak, Anthony de Mello, Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997 )